Dinginnya pagi yang disebabkan
hujan sejak malam ini membuat Rani ingin tetap berada di balik selimut
tebalnya. Rasa malas untuk bangkit dari kasur empuknya pun semakin menjadi
setelah tahu bahwa tetesan air masih turun dari langit.
hujan sejak malam ini membuat Rani ingin tetap berada di balik selimut
tebalnya. Rasa malas untuk bangkit dari kasur empuknya pun semakin menjadi
setelah tahu bahwa tetesan air masih turun dari langit.
Dilihatnya jam dilayar ponsel
kesayangannya itu sudah menunjukkan angka 07.00. Dengan agak malas akhirnya
Rani beranjak dari tempat ternyaman di kamarnya itu kemudian bergegas mandi, ia
sudah berjanji akan menemani salah satu sahabatnya berkunjung ke salah satu
panti asuhan di daerah selatan Jakarta jam delapan nanti.
kesayangannya itu sudah menunjukkan angka 07.00. Dengan agak malas akhirnya
Rani beranjak dari tempat ternyaman di kamarnya itu kemudian bergegas mandi, ia
sudah berjanji akan menemani salah satu sahabatnya berkunjung ke salah satu
panti asuhan di daerah selatan Jakarta jam delapan nanti.
***
“Dalam rangka apa lo ngajak gue
ke panti beb?” tanya Rani begitu mobil Disya sudah keluar dari kompleks
perumahan mereka.
ke panti beb?” tanya Rani begitu mobil Disya sudah keluar dari kompleks
perumahan mereka.
“Dalam rangka mau ngenalin lo
sama dunia yang jauh berbeda sama dunia kerja lo yang nggak kenal kata
istirahat itu.” ujar Disya tanpa mengalihkan perhatiannya ke jalanan di
hadapannya itu.
sama dunia yang jauh berbeda sama dunia kerja lo yang nggak kenal kata
istirahat itu.” ujar Disya tanpa mengalihkan perhatiannya ke jalanan di
hadapannya itu.
Disya membelokkan setir mobilnya
memasuki sebuah jalan kecil yang lebarnya hanya cukup untuk satu mobil itu
dengan perlahan. Di ujung jalan ini terdapat sebuah rumah yang memiliki halaman
depan agak luas dengan pagar besi berwarna biru muda. Tidak ada papan nama yayasan di halaman depan rumah tersebut, sehingga tidak terlihat seperti panti
asuhan, melainkan rumah biasa dengan halaman depan agak luas.
memasuki sebuah jalan kecil yang lebarnya hanya cukup untuk satu mobil itu
dengan perlahan. Di ujung jalan ini terdapat sebuah rumah yang memiliki halaman
depan agak luas dengan pagar besi berwarna biru muda. Tidak ada papan nama yayasan di halaman depan rumah tersebut, sehingga tidak terlihat seperti panti
asuhan, melainkan rumah biasa dengan halaman depan agak luas.
Setelah memarkirkan mobilnya di
halaman depan rumah tersebut, Disya mengajak Rani ikut turun masuk ke dalam
rumah itu. Ada perasaan aneh yang dirasakan Rani ketika matanya menatap ke arah
rumah bercat putih di hadapannya itu. Entah apa.
halaman depan rumah tersebut, Disya mengajak Rani ikut turun masuk ke dalam
rumah itu. Ada perasaan aneh yang dirasakan Rani ketika matanya menatap ke arah
rumah bercat putih di hadapannya itu. Entah apa.
“Ayo beb, masuk. Jangan berdiri
aja di situ”
aja di situ”
Disya ternyata sudah berada agak
jauh dari tempatnya berdiri kini. Di hempaskannya rasa aneh tadi dari
pikirannya, kemudian kakinya melangkah menuju Disya yang sudah bersama seorang wanita
paruh baya yang terlihat ramah.
jauh dari tempatnya berdiri kini. Di hempaskannya rasa aneh tadi dari
pikirannya, kemudian kakinya melangkah menuju Disya yang sudah bersama seorang wanita
paruh baya yang terlihat ramah.
“Beb, ini kenalin Bu Susi, kepala
yayasan di panti ini”
yayasan di panti ini”
Rani mengulurkan tangannya untuk
berjabatan tangan dengan wanita yang masih terlihat cantik di hadapannya itu.
berjabatan tangan dengan wanita yang masih terlihat cantik di hadapannya itu.
“Rani” ujarnya berusaha sopan.
“Ayo nak Disya dan nak Rani
langsung masuk saja ke dalam, anak-anak baru saja selesai sarapan dan sedang
bermain-main di ruang tengah.” Bu Susi sangat ramah dan wajahnya tak pernah
lepas dari senyuman.
langsung masuk saja ke dalam, anak-anak baru saja selesai sarapan dan sedang
bermain-main di ruang tengah.” Bu Susi sangat ramah dan wajahnya tak pernah
lepas dari senyuman.
“Kenalan yuk beb sama anak-anak,”
Disya langsung menarik Rani masuk menuju ruang tengah yang dimaksud Bu Susi
tadi.
Disya langsung menarik Rani masuk menuju ruang tengah yang dimaksud Bu Susi
tadi.
Disya dengan mudahnya akrab
dengan anak-anak yang sebagian besar berusia balita ini. Mereka semua tertawa
gembira, seperti tanpa beban. Ciri khas anak-anak.
dengan anak-anak yang sebagian besar berusia balita ini. Mereka semua tertawa
gembira, seperti tanpa beban. Ciri khas anak-anak.
Ada satu anak yang menarik
perhatian Rani sejak tadi, seorang anak perempuan yang sedang duduk sendirian di
salah satu meja kecil tak jauh dari tempatnya berdiri disana.
perhatian Rani sejak tadi, seorang anak perempuan yang sedang duduk sendirian di
salah satu meja kecil tak jauh dari tempatnya berdiri disana.
Tanpa sadar Rani melangkah
mendekati anak itu kemudian duduk di sampingnya.
mendekati anak itu kemudian duduk di sampingnya.
“Hey, kok sendirian aja di sini? Nggak gabung
sama yang lainnya disana?” tanya Rani ramah.
sama yang lainnya disana?” tanya Rani ramah.
Anak perempuan berkaos biru itu
menatap Rani tanpa ekspresi.
menatap Rani tanpa ekspresi.
Deg! Mata itu. Mata mungilnya
mengingatkan Rani akan sesuatu. Yang beberapa malam belakangan ini selalu hadir
di mimpinya.
mengingatkan Rani akan sesuatu. Yang beberapa malam belakangan ini selalu hadir
di mimpinya.
“Namanya Nisrina, ia tuna rungu.”
Bu Susi kemudian duduk di hadapan Rani.
Bu Susi kemudian duduk di hadapan Rani.
“Empat tahun lalu ibu
menemukannya di pinggir jalan dalam keranjang bayi. Di dalam keranjang tersebut
terdapat surat yang sepertinya ditulis oleh ibu yang melahirkannya. Di
sebutkan dalam surat itu anak ini diberi nama Nisrina.” Bu Susi menjelaskan
sambil menatap iba pada anak perempuan di samping Rani.
menemukannya di pinggir jalan dalam keranjang bayi. Di dalam keranjang tersebut
terdapat surat yang sepertinya ditulis oleh ibu yang melahirkannya. Di
sebutkan dalam surat itu anak ini diberi nama Nisrina.” Bu Susi menjelaskan
sambil menatap iba pada anak perempuan di samping Rani.
Deg!
Sekelebat bayangan masa lalu
terlintas di benak Rani.
terlintas di benak Rani.
Saat ia dinyatakan positif hamil oleh
dokter dan Sony, kekasihnya saat itu, yang tidak mau bertanggung jawab kemudian
meninggalkannya dengan perut yang semakin lama semakin membesar. Sakitnya saat
proses persalinan. Tangisan bayi yang masih merah berlumur darah. Keranjang
bayi yang ia letakkan di pinggir jalan saat tengah malam. Empat tahun lalu
dokter dan Sony, kekasihnya saat itu, yang tidak mau bertanggung jawab kemudian
meninggalkannya dengan perut yang semakin lama semakin membesar. Sakitnya saat
proses persalinan. Tangisan bayi yang masih merah berlumur darah. Keranjang
bayi yang ia letakkan di pinggir jalan saat tengah malam. Empat tahun lalu
Air matanya berjatuhan membentuk
dua aliran sungai di pipinya.
dua aliran sungai di pipinya.
Rani memeluk anak perempuan di
sampingnya kini. Anak yang lahir dari rahimnya. Yang ia tinggalkan di pinggir
jalan empat tahun lalu.
sampingnya kini. Anak yang lahir dari rahimnya. Yang ia tinggalkan di pinggir
jalan empat tahun lalu.
Hari 1 #13hariNgeblogFF
Leave a Reply